Jumat, 28 November 2008
soft opening sanggar Gracia
Ini yang repot. Kalau knalpot bocor dan kantong sedang dalam keadaan sehat walafiat, tentu tak perlu pikir panjang, segera beli knalpot baru dong. Tapi kalau kantong juga sedang bocor? wah gawat tuh!!!
Mengganti knalpot baru memang mutlak diperlukan jika knalpot lama sudah bocor parah. Tetapi kisaran harga Rp 500 ribu-Rp 3 juta untuk membeli knalpot baru, tentu membuat sejumlah orang berpikir dua-tiga kali. Seandainya bocornya belum parah benar, ada alternatif lain yang bisa membantu Anda.
Di-las? Sebaiknya buang jauh alternatif ini. Alih-alih untung karena biaya melas yang kecil, bisa jadi uang lebih banyak keluar untuk memperbaiki ornamen lain di mobil Anda yang terkena imbas akibat dari panas pijar las. Beberapa saran mungkin merujuk kepada SealTape Aluminium yang biasa untuk menambal atap seng. Tapi apa iya perekatnya tahan panas? Kalau kemudian copot lagi, kebayang kan merepotkannya..
Yang perlu Anda cari adalah SealTape yang khusus untuk menambal knalpot. Dia disebut Aluminium Muffler Tape. Wujudnya berupa lembaran tipis aluminium berukuran lebar 4cm dan panjang 1 meter yang berperekat dibelakangnya. Harganya sekitar Rp 10 ribu-Rp 11 ribu dan bisa Anda dapatkan di sejumlah supermarket yang lumayan besar, atau mungkin toko bahan bangunan ataupun bengkel.
Menurut petunjuk yang tertera di belakang bungkus pembalut Muffler Tape ini, ketika terkena panas, perekatnya akan merekat permanen setelah sekitar 30 menit perjalanan. Kabar gembira bukan…
Terlebih dahulu, bersihkan knalpot dari pasir dan debu hingga benar-benar bersih.Kemudian rekatkan Muffler Tape pada bagian yang bolong. Jika ada bagian yang sepertinya lebih parah, dapat dilapis dua agar lebih kuat. Tunggu beberapa saat dan coba nyalakan mesin mobil Anda...Hasilnya, kuping Anda tak akan lagi menderita akibat rintihan suara knalpot mobil dan dompet pun tetap utuh sampai akhir bulan
Baca Selengkapnya....
Mengganti knalpot baru memang mutlak diperlukan jika knalpot lama sudah bocor parah. Tetapi kisaran harga Rp 500 ribu-Rp 3 juta untuk membeli knalpot baru, tentu membuat sejumlah orang berpikir dua-tiga kali. Seandainya bocornya belum parah benar, ada alternatif lain yang bisa membantu Anda.
Di-las? Sebaiknya buang jauh alternatif ini. Alih-alih untung karena biaya melas yang kecil, bisa jadi uang lebih banyak keluar untuk memperbaiki ornamen lain di mobil Anda yang terkena imbas akibat dari panas pijar las. Beberapa saran mungkin merujuk kepada SealTape Aluminium yang biasa untuk menambal atap seng. Tapi apa iya perekatnya tahan panas? Kalau kemudian copot lagi, kebayang kan merepotkannya..
Yang perlu Anda cari adalah SealTape yang khusus untuk menambal knalpot. Dia disebut Aluminium Muffler Tape. Wujudnya berupa lembaran tipis aluminium berukuran lebar 4cm dan panjang 1 meter yang berperekat dibelakangnya. Harganya sekitar Rp 10 ribu-Rp 11 ribu dan bisa Anda dapatkan di sejumlah supermarket yang lumayan besar, atau mungkin toko bahan bangunan ataupun bengkel.
Menurut petunjuk yang tertera di belakang bungkus pembalut Muffler Tape ini, ketika terkena panas, perekatnya akan merekat permanen setelah sekitar 30 menit perjalanan. Kabar gembira bukan…
Terlebih dahulu, bersihkan knalpot dari pasir dan debu hingga benar-benar bersih.Kemudian rekatkan Muffler Tape pada bagian yang bolong. Jika ada bagian yang sepertinya lebih parah, dapat dilapis dua agar lebih kuat. Tunggu beberapa saat dan coba nyalakan mesin mobil Anda...Hasilnya, kuping Anda tak akan lagi menderita akibat rintihan suara knalpot mobil dan dompet pun tetap utuh sampai akhir bulan
Kursus Seni, Mengembangkan Kompetensi di Masa Emas AnakGlobalisasi memang menjadi tantangan bagi para orang tua, pendidik dan anak, sehingga untuk menjawab tantangan itu, dirasakan perlu kegiatan‑kegiatan tambahan. Kursus seni adalah salah satunya.
Banyak orang tua yang berkeyakinan, banyaknya kegiatan tambahan, secara otomatis akan mengakibatkan kualitas anak mereka menjadi meningkat.
Namun ingat, orang tua tak perlu terlalu memaksakan banyak kegiatan tambahan yang harus dikerjakan anak‑anak seperti kursus ataupun pelajaran tambahan. Sebab, hal itu bakal mempengaruhi proses tumbuh kembang si buah hati.
Terkait dengan hal tersebut, dalam AdInfo edisi kali ini, kami sengaja mengangkat tema Kursus Seni di Bekasi dan Sekitarnya.Tak hanya itu, kami juga menampilkan berbagai artikel tentang kegiatan warga yang ada di kawasan ini. Selamat membaca!
Baca Selengkapnya....
Banyak orang tua yang berkeyakinan, banyaknya kegiatan tambahan, secara otomatis akan mengakibatkan kualitas anak mereka menjadi meningkat.
Namun ingat, orang tua tak perlu terlalu memaksakan banyak kegiatan tambahan yang harus dikerjakan anak‑anak seperti kursus ataupun pelajaran tambahan. Sebab, hal itu bakal mempengaruhi proses tumbuh kembang si buah hati.
Terkait dengan hal tersebut, dalam AdInfo edisi kali ini, kami sengaja mengangkat tema Kursus Seni di Bekasi dan Sekitarnya.Tak hanya itu, kami juga menampilkan berbagai artikel tentang kegiatan warga yang ada di kawasan ini. Selamat membaca!
Mengembangkan EQ Melalui Kegiatan SeniPada umumnya semua orangtua pasti bangga ketika melihat rapor sang anak yang penuh dengan angka 8 dan 9, apalagi jika buah hatinya berhasil meraih rangking di kelasnya. Wah, rasa bangga bercampur rasa puas menyeruak dalam dada orangtua.
Ada banyak faktor yang umumnya menentukan kecerdasan seseorang, antara lain faktor genetik, gizi, lingkungan, dan lain-lain. Menurut hasil penelitian, anak-anak yang mendapat perhatian banyak dari orangtuanya, memiliki IQ yang cukup tinggi, terutama anak yang banyak mendapat perhatian dari sang ayah. Secara tidak langsung, kehadiran sosok ayah memberikan tambahan rasa bagi si anak sehingga menjadi lebih leluasa dalam melakukan kreativitas. Begitu pula halnya dengan anak-anak yang mendapat asupan air susu ibu (ASI) paling sedikit selama 6 bulan penuh, menunjukkan ciri-ciri ber-IQ lebih tinggi jika dibandingkan dengan anak yang disusui selama kurang dari 3 bulan. Hal ini berkaitan dengan terjadinya hubungan psikologis antara anak dan ibu yang tercipta saat menyusui, yang sangat mungkin menjadi faktor penting dalam perkembangan IQ. Namun, pada umumnya, IQ atau daya tangkap seseorang dalam perkembangannya mengalami perubahan yang disebabkan antara lain oleh berbagai faktor seperti organo – biologis atau kerusakan yang terjadi pada sel-sel otak akibat penyakit berat atau ganas, psiko – sosial yakni berbagai hambatan oleh lingkungan, dan kelainan kromosom yang dapat menyebabkan anak-anak menjadi terbelakang mentalnya.
Namun ada hal yang acapkali terlupakan orangtua, yakni kesadaran bahwa kesuksesan seseorang sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademis atau tingginya IQ yang dimiliki, tetapi ada kecerdasan lain yang justru lebih berperan dalam kesuksesan seseorang.
Kecerdasan di luar IQ ini disebut EQ (Emotional Quotient) atau yang biasa dikenal dengan kecerdasan emosional. Adapun kecerdasan emosional, mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri sehingga mampu bertahan dalam menghadapi berbagai kerikil tajam dalam kehidupan yang dapat menyebabkan rasa frustasi.
Kecerdasan emosional akan membentuk pribadi seseorang menjadi mampu mengendalikan dorongan hati dan emosi. Insan dengan kecerdasan emosional, biasanya pandai mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikirnya untuk tetap membaca perasaan orang lain (berempati), serta memiliki kemampuan menyelesaikan konflik.
Bagaimana pun juga, kecerdasan atau IQ seseorang tidaklah berarti apa-apa jika tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional, menambahkan banyak sifat yang membuat seseorang lebih manusiawi. Sebagaimana IQ, kecerdasan emosional perlu diterapkan sejak dini melalui berbagai kegiatan yang mampu menggerakkan anak untuk bersosialisasi.
Masuk Sanggar Seni
Penelitian menunjukkan, IQ menyumbang sebanyak 20% bagi kesuksesan hidup seseorang, sedangkan 80% ditentukan faktor lain. Jadi, kecerdasan akademis praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi berbagai gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan-kesulitan hidup. Banyak bukti yang memperlihatkan bahwa orang yang secara emosional cakap, mengetahui dan menangani perasaan mereka sendiri dengan baik, serta mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif, memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan mereka di masa depan. Entah itu dalam hubungan asmara dan persahabatan, atau pun dalam menangkap berbagai aturan tak tertulis yang menentukan keberhasilan dalam hidup.
Lalu bagaimana kita mempersiapkan anak-anak kita dalam menempuh kehidupan? Untuk itu, anak perlu mendapat pendidikan kecakapan manusiawi dasar seperti pendidikan agama, pengendalian diri dan empati, pendidikan seni dan latihan kerjasama. Pengalaman dan pendidikan di masa kanak-kanak, akan sangat menentukan pembentukan keterampilan sosial dan emosional di masa dewasa. Salah satu metode pendekatan untuk mengoptimalkan kecerdasan emosional adalah melalui kegiatan seni. Melalui aktifitas seni, anak akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan emosional mereka. Memasukan anak ke sanggar atau kelompok seni adalah pilihan terbaik. Di sanggar, anak dapat memilih kegiatan yang mereka minati misalnya tari tradisional dan modern, musik, peran atau akting, model, melukis dan vocal atau seni suara, dan lain-lain. Selain dapat mengembangkan potensi atau bakat seni yang mereka miliki, anak juga akan mendapat pengalaman empiris dalam bersosialisasi. Keberanian untuk tampil menyajikan kebolehan yang mereka miliki di hadapan orang banyak, adalah kemampuan yang tak dimiliki semua orang. Bahkan, anak Anda pun akan memiliki kesempatan untuk berprestasi dalam seni hingga tampil atau pentas di berbagai tempat, baik di tingkat nasional maupun internasional. Nah, jika Anda ingin IQ dan EQ si buah hati berkembang secara seimbang, jangan hanya bersandar pada pendidikan di sekolah, silahkan masukan si kecil ke sanggar atau kelompok seni terdekat agar mereka mampu mengembangkan kecerdasan emosionalnya dengan lebih baik.
Baca Selengkapnya....
Ada banyak faktor yang umumnya menentukan kecerdasan seseorang, antara lain faktor genetik, gizi, lingkungan, dan lain-lain. Menurut hasil penelitian, anak-anak yang mendapat perhatian banyak dari orangtuanya, memiliki IQ yang cukup tinggi, terutama anak yang banyak mendapat perhatian dari sang ayah. Secara tidak langsung, kehadiran sosok ayah memberikan tambahan rasa bagi si anak sehingga menjadi lebih leluasa dalam melakukan kreativitas. Begitu pula halnya dengan anak-anak yang mendapat asupan air susu ibu (ASI) paling sedikit selama 6 bulan penuh, menunjukkan ciri-ciri ber-IQ lebih tinggi jika dibandingkan dengan anak yang disusui selama kurang dari 3 bulan. Hal ini berkaitan dengan terjadinya hubungan psikologis antara anak dan ibu yang tercipta saat menyusui, yang sangat mungkin menjadi faktor penting dalam perkembangan IQ. Namun, pada umumnya, IQ atau daya tangkap seseorang dalam perkembangannya mengalami perubahan yang disebabkan antara lain oleh berbagai faktor seperti organo – biologis atau kerusakan yang terjadi pada sel-sel otak akibat penyakit berat atau ganas, psiko – sosial yakni berbagai hambatan oleh lingkungan, dan kelainan kromosom yang dapat menyebabkan anak-anak menjadi terbelakang mentalnya.
Namun ada hal yang acapkali terlupakan orangtua, yakni kesadaran bahwa kesuksesan seseorang sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademis atau tingginya IQ yang dimiliki, tetapi ada kecerdasan lain yang justru lebih berperan dalam kesuksesan seseorang.
Kecerdasan di luar IQ ini disebut EQ (Emotional Quotient) atau yang biasa dikenal dengan kecerdasan emosional. Adapun kecerdasan emosional, mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri sehingga mampu bertahan dalam menghadapi berbagai kerikil tajam dalam kehidupan yang dapat menyebabkan rasa frustasi.
Kecerdasan emosional akan membentuk pribadi seseorang menjadi mampu mengendalikan dorongan hati dan emosi. Insan dengan kecerdasan emosional, biasanya pandai mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikirnya untuk tetap membaca perasaan orang lain (berempati), serta memiliki kemampuan menyelesaikan konflik.
Bagaimana pun juga, kecerdasan atau IQ seseorang tidaklah berarti apa-apa jika tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional, menambahkan banyak sifat yang membuat seseorang lebih manusiawi. Sebagaimana IQ, kecerdasan emosional perlu diterapkan sejak dini melalui berbagai kegiatan yang mampu menggerakkan anak untuk bersosialisasi.
Masuk Sanggar Seni
Penelitian menunjukkan, IQ menyumbang sebanyak 20% bagi kesuksesan hidup seseorang, sedangkan 80% ditentukan faktor lain. Jadi, kecerdasan akademis praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi berbagai gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan-kesulitan hidup. Banyak bukti yang memperlihatkan bahwa orang yang secara emosional cakap, mengetahui dan menangani perasaan mereka sendiri dengan baik, serta mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif, memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan mereka di masa depan. Entah itu dalam hubungan asmara dan persahabatan, atau pun dalam menangkap berbagai aturan tak tertulis yang menentukan keberhasilan dalam hidup.
Lalu bagaimana kita mempersiapkan anak-anak kita dalam menempuh kehidupan? Untuk itu, anak perlu mendapat pendidikan kecakapan manusiawi dasar seperti pendidikan agama, pengendalian diri dan empati, pendidikan seni dan latihan kerjasama. Pengalaman dan pendidikan di masa kanak-kanak, akan sangat menentukan pembentukan keterampilan sosial dan emosional di masa dewasa. Salah satu metode pendekatan untuk mengoptimalkan kecerdasan emosional adalah melalui kegiatan seni. Melalui aktifitas seni, anak akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan emosional mereka. Memasukan anak ke sanggar atau kelompok seni adalah pilihan terbaik. Di sanggar, anak dapat memilih kegiatan yang mereka minati misalnya tari tradisional dan modern, musik, peran atau akting, model, melukis dan vocal atau seni suara, dan lain-lain. Selain dapat mengembangkan potensi atau bakat seni yang mereka miliki, anak juga akan mendapat pengalaman empiris dalam bersosialisasi. Keberanian untuk tampil menyajikan kebolehan yang mereka miliki di hadapan orang banyak, adalah kemampuan yang tak dimiliki semua orang. Bahkan, anak Anda pun akan memiliki kesempatan untuk berprestasi dalam seni hingga tampil atau pentas di berbagai tempat, baik di tingkat nasional maupun internasional. Nah, jika Anda ingin IQ dan EQ si buah hati berkembang secara seimbang, jangan hanya bersandar pada pendidikan di sekolah, silahkan masukan si kecil ke sanggar atau kelompok seni terdekat agar mereka mampu mengembangkan kecerdasan emosionalnya dengan lebih baik.
Meraih Sukses Sejak Dini
Dalam setiap segi kehidupannya, manusia selalu dituntut untuk berusaha memenuhi kebutuhan demi kelangsungan hidupnya. Tak ayal, keputusan untuk bekerja, baik pada sebuah perusahaan maupun membuka usaha sendiri atau wiraswasta, merupakan keputusan terbaik yang akan dijalani seseorang. Jika Anda memilih untuk menjadi seorang wirausahawan, maka jiwa wirausaha yang telaten, tekun, hemat dan bersahaja menjadi suatu hal wajib yang seyogyanya Anda miliki.
Seperti pepatah, makin sering pisau diasah, semakin tajamlah matanya, begitupula semakin dini kita mengenalkan jiwa wirausaha kepada anak, semakin sempurnalah hasilnya. Konon kemampuan seorang anak dalam menangkap dan menghafalkan sebuah informasi lebih jitu ketimbang orang dewasa. Tak heran, mengingat otak mereka belum terlalu penuh terisi dengan berbagai beban tanggung jawab kehidupan. Namun bukan berarti kita tidak bisa menanamkan modal bagi keberhasilan hidup sang anak saat dewasa nanti. Dengan mengenalkan rasa tanggung jawab, memperkaya kreatifitas dan melatihnya untuk mandiri dalam mengambil keputusan sejak dini, itu sama halnya kita mempersiapkan sebuah adonan untuk dimasak dalam proses kehidupan.
Peran Orangtua dan Guru
Di jaman ini, dengan persaingan global antar bangsa yang tak mengenal batas antar negara, menuntut setiap orang untuk kreatif dalam memunculkan ide-ide baru.
Tanpa sebuah ciri khas dan kreatifitas yang akan membedakan Anda dari orang lain, maka Anda akan tenggelam dan terkalahkan dalam persaingan. Kenyataan bahwa wirausaha merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan membutuhkan banyak kreatifitas.
Bagi seorang anak, rasa tanggung jawab dan kreatifitas dapat ditanamkan sedini mungkin sejak mereka mulai berinteraksi dengan orang dewasa. Anak harus diajarkan memotivasi diri untuk bekerja keras, diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan serta kreatif dalam berpikir.
Orangtua tentu saja merupakan pihak yang bertanggung jawab penuh dalam proses ini. Selain itu, peran lingkungan, semisal guru di sekolah, juga berpengaruh terhadap pembentukan pribadi seorang anak untuk menjadi seorang enterpreneur (berjiwa wirausahawan). Maka, guru harus kreatif dalam mengajar dan membuat soal. Berikan kesempatan kepada para siswa untuk berpikir alternatif.
Alternatif tersebut akan melatih anak agar mampu mengambil keputusan yang tepat dari berbagai pilihan yang ada. Jiwa wirausaha juga memerlukan motivasi yang bagus, intelegensi yang cukup baik, kreatif, inovatif, dan selalu mencari sesuatu hal yang baru untuk bisa dikembangkan. Sayangnya, saat ini hal-hal tersebut kurang mendapat perhatian di sekolah. Sebagian besar sekolah masih terfokus pada pengembangan kecerdasan intelegensi saja, sehingga pembentukan pribadi melalui kegiatan-kegiatan yang memacu kreatifitas, jarang dilakukan.
Padahal tanpa disadari, kreatifitas merupakan modal dasar untuk menjadi enterpreuner. Selain itu, modal penting lainnya adalah sikap bertanggungjawab. Apabila sikap ini telah bersarang dalam pribadi seorang anak, besar kemungkinan ia tumbuh menjadi insan yang pintar memperhitungkan segalanya. Itu karena ia tahu dan menyadari bahwa apapun yang dilakukannya harus bisa dipertanggungjawabkan.
Jangan Terburu-buru
Kapasitas otak anak yang terbatas, membuat kita harus ekstra sabar dalam menanamkan jiwa wirausaha kepada si kecil. Tampaknya latihan bertahap merupakan jalan terbaik dalam melatih anak Anda. Latihan wirausaha bukanlah sesuatu yang rumit. Bentuknya bisa sederhana dan merupakan bagian dari keseharian anak. Contoh sederhana, toilet training untuk melatih anak yang masih mengompol. Tujuannya agar anak mampu membuang kotoran di tempatnya, membersihkan kotorannya, dan memakai kembali celananya.
Membiasakan anak untuk membereskan mainannya setelah selesai bermain dan meletakkan mainan di tempatnya, sesungguhnya merupakan latihan sederhana lainnya. Selain melatih anak untuk bertanggungjawab, hal ini juga merupakan awal dalam mengajarkan tentang arti memiliki. Dengan cara ini si kecil akan menyadari yang mana saja mainannya, dan harus diletakkan di mana mainan tersebut. Bila si kecil ingin memakai mainan atau barang milik saudaranya, ajarkan ia untuk meminta ijin terlebih dahulu.
Latihan selanjutnya adalah mengajarkan anak agar mampu mengelola uang dengan baik. Terangkan pada anak, dari mana uang yang dipakai untuk membiayai segala keperluan rumah tangga. Jelaskan bahwa untuk mendapatkan uang tersebut, orangtua harus bekerja keras. Tegaskan pada anak bahwa uang hanya boleh dipakai untuk kebutuhan yang benar-benar perlu dan penting. Dengan demikian anak akan menjauhi sikap konsumtif. Latihan yang perlu diberikan agar anak mampu mengelola uang dengan baik tidak dengan cara berbelanja, namun cukup dengan menabung, bersedekah dan memperlihatkan bagaimana proses atau cara Anda mencari uang. Saat mengajak anak berbelanja misalnya, sebaiknya Anda mencatat terlebih dahulu segala kebutuhan yang akan dibeli. Orangtua harus konsisten untuk tidak membeli barang yang tidak ada dalam catatan belanja.
Berlatih Berbisnis
Setelah anak diajarkan mengelola uang, selanjutnya Anda bisa mengajarkan si anak untuk berbisnis kecil-kecilan. Hal tersebut bisa dilakukan pada anak usia sekolah yang umumnya sudah mendapat pendidikan proses jual beli di sekolah. Anda bisa mengajarkan anak menjual barang-barang hasil karyanya, seperti es mambo, kue, prakarya atau kerajinan tangan dan lain-lain. Jika anak sudah terbiasa untuk menabung dan mengatur uangnya dengan baik, maka uang yang mereka dapat tak segera dihabiskan untuk hal-hal yang tak perlu. Nah, ternyata menanamkan jiwa wirausaha kepada anak sejak dini, bukan suatu hal yang sulit kan?
Baca Selengkapnya....
Seperti pepatah, makin sering pisau diasah, semakin tajamlah matanya, begitupula semakin dini kita mengenalkan jiwa wirausaha kepada anak, semakin sempurnalah hasilnya. Konon kemampuan seorang anak dalam menangkap dan menghafalkan sebuah informasi lebih jitu ketimbang orang dewasa. Tak heran, mengingat otak mereka belum terlalu penuh terisi dengan berbagai beban tanggung jawab kehidupan. Namun bukan berarti kita tidak bisa menanamkan modal bagi keberhasilan hidup sang anak saat dewasa nanti. Dengan mengenalkan rasa tanggung jawab, memperkaya kreatifitas dan melatihnya untuk mandiri dalam mengambil keputusan sejak dini, itu sama halnya kita mempersiapkan sebuah adonan untuk dimasak dalam proses kehidupan.
Peran Orangtua dan Guru
Di jaman ini, dengan persaingan global antar bangsa yang tak mengenal batas antar negara, menuntut setiap orang untuk kreatif dalam memunculkan ide-ide baru.
Tanpa sebuah ciri khas dan kreatifitas yang akan membedakan Anda dari orang lain, maka Anda akan tenggelam dan terkalahkan dalam persaingan. Kenyataan bahwa wirausaha merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan membutuhkan banyak kreatifitas.
Bagi seorang anak, rasa tanggung jawab dan kreatifitas dapat ditanamkan sedini mungkin sejak mereka mulai berinteraksi dengan orang dewasa. Anak harus diajarkan memotivasi diri untuk bekerja keras, diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan serta kreatif dalam berpikir.
Orangtua tentu saja merupakan pihak yang bertanggung jawab penuh dalam proses ini. Selain itu, peran lingkungan, semisal guru di sekolah, juga berpengaruh terhadap pembentukan pribadi seorang anak untuk menjadi seorang enterpreneur (berjiwa wirausahawan). Maka, guru harus kreatif dalam mengajar dan membuat soal. Berikan kesempatan kepada para siswa untuk berpikir alternatif.
Alternatif tersebut akan melatih anak agar mampu mengambil keputusan yang tepat dari berbagai pilihan yang ada. Jiwa wirausaha juga memerlukan motivasi yang bagus, intelegensi yang cukup baik, kreatif, inovatif, dan selalu mencari sesuatu hal yang baru untuk bisa dikembangkan. Sayangnya, saat ini hal-hal tersebut kurang mendapat perhatian di sekolah. Sebagian besar sekolah masih terfokus pada pengembangan kecerdasan intelegensi saja, sehingga pembentukan pribadi melalui kegiatan-kegiatan yang memacu kreatifitas, jarang dilakukan.
Padahal tanpa disadari, kreatifitas merupakan modal dasar untuk menjadi enterpreuner. Selain itu, modal penting lainnya adalah sikap bertanggungjawab. Apabila sikap ini telah bersarang dalam pribadi seorang anak, besar kemungkinan ia tumbuh menjadi insan yang pintar memperhitungkan segalanya. Itu karena ia tahu dan menyadari bahwa apapun yang dilakukannya harus bisa dipertanggungjawabkan.
Jangan Terburu-buru
Kapasitas otak anak yang terbatas, membuat kita harus ekstra sabar dalam menanamkan jiwa wirausaha kepada si kecil. Tampaknya latihan bertahap merupakan jalan terbaik dalam melatih anak Anda. Latihan wirausaha bukanlah sesuatu yang rumit. Bentuknya bisa sederhana dan merupakan bagian dari keseharian anak. Contoh sederhana, toilet training untuk melatih anak yang masih mengompol. Tujuannya agar anak mampu membuang kotoran di tempatnya, membersihkan kotorannya, dan memakai kembali celananya.
Membiasakan anak untuk membereskan mainannya setelah selesai bermain dan meletakkan mainan di tempatnya, sesungguhnya merupakan latihan sederhana lainnya. Selain melatih anak untuk bertanggungjawab, hal ini juga merupakan awal dalam mengajarkan tentang arti memiliki. Dengan cara ini si kecil akan menyadari yang mana saja mainannya, dan harus diletakkan di mana mainan tersebut. Bila si kecil ingin memakai mainan atau barang milik saudaranya, ajarkan ia untuk meminta ijin terlebih dahulu.
Latihan selanjutnya adalah mengajarkan anak agar mampu mengelola uang dengan baik. Terangkan pada anak, dari mana uang yang dipakai untuk membiayai segala keperluan rumah tangga. Jelaskan bahwa untuk mendapatkan uang tersebut, orangtua harus bekerja keras. Tegaskan pada anak bahwa uang hanya boleh dipakai untuk kebutuhan yang benar-benar perlu dan penting. Dengan demikian anak akan menjauhi sikap konsumtif. Latihan yang perlu diberikan agar anak mampu mengelola uang dengan baik tidak dengan cara berbelanja, namun cukup dengan menabung, bersedekah dan memperlihatkan bagaimana proses atau cara Anda mencari uang. Saat mengajak anak berbelanja misalnya, sebaiknya Anda mencatat terlebih dahulu segala kebutuhan yang akan dibeli. Orangtua harus konsisten untuk tidak membeli barang yang tidak ada dalam catatan belanja.
Berlatih Berbisnis
Setelah anak diajarkan mengelola uang, selanjutnya Anda bisa mengajarkan si anak untuk berbisnis kecil-kecilan. Hal tersebut bisa dilakukan pada anak usia sekolah yang umumnya sudah mendapat pendidikan proses jual beli di sekolah. Anda bisa mengajarkan anak menjual barang-barang hasil karyanya, seperti es mambo, kue, prakarya atau kerajinan tangan dan lain-lain. Jika anak sudah terbiasa untuk menabung dan mengatur uangnya dengan baik, maka uang yang mereka dapat tak segera dihabiskan untuk hal-hal yang tak perlu. Nah, ternyata menanamkan jiwa wirausaha kepada anak sejak dini, bukan suatu hal yang sulit kan?
Kursus Balet Stefie’s House Of Creativity
Mengajarkan Keindahan Seni Gerak Bernilai Tinggi Bagi AnakAnda tentu pernah membaca, mendengar atau melihat repertoar balet klasik seperti Swanlake, Nutcraker, Coppelia dan lain-lain? Keindahan akan merasuk jiwa saat Anda melihat tarian balet tersebut bukan!
Ya, balet adalah salah satu seni keindahan gerak yang nilai seninya sangat tinggi hingga dianggap sebagai pondasi dari semua jenis tarian.
Tak ada persyaratan tertentu agar orang bisa belajar balet, semua orang bisa mempelajarinya. Anak-anak bisa belajar balet mulai dari usia 3,5 tahun. Di usia tersebut, anak-anak akan mulai diperkenalkan dengan istilah-istilah
balet, musik dan mulai belajar untuk menyelaraskan musik dan harmoninya.
Kini, seiring dengan semakin bertumbuhnya tempat-tempat pelatihan atau kursus, balet sudah jauh berkembang dibandingkan 20 tahun yang lalu. Penggemarnya pun beragam, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Salah satu tempat kursus balet di Bekasi adalah Kursus Balet Stefie’s House Of Creativity. Berlokasi di kawasan Taman Galaxy, sanggar ini didirikan pada 26 maret 2006 oleh Stefie.
Meski muda usia, namun Stefie bisa dibilang cukup matang dalam tari balet. Gadis cantik yang baru berusia 22 tahun ini mengenyam pendidikan balet di DINA MARINA, dan hingga kini masih berlatih di sana.
Banyak sudah event yang diikuti oleh Kursus Balet Stefie’s House Of Creativity, antara lain “Mother and Child” Susu Bendera pada 13-17 Desember 2006 di Semanggi Expo, “Lomba Mental Aritmatika Sempoa” di Cibubur Junction, Disney Lantern di Glora Bung Karno, dan sebagainya.
Kehadiran Kursus Balet Stefie’s House Of Creativity merupakan salah satu bentuk sumbangsih Stefie dalam memberikan perhatian besar kepada pengembangan apresiasi masyarakat dan pendidikan seni tari balet itu.
Guna menjaga kualitas siswanya, maka untuk naik tingkat, siswa harus mengikuti ujian. Silabus yang digunakan Kursus Balet Stefie’s House Of Creativity dibuat sendiri dengan mengikuti aliran serta gaya dari luar negeri khususnya dari Rusia. Silabus atau kurikulum tersebut dapat ditempuh dalam waktu 1 dan 1,5 tahun pada setiap tingkatannya.
Nah, pasti bangga dong…! jika buah hati Anda memiliki keterampilan khusus yang unik dan khas seperti menari balet? Jadi silakan ajak si kecil menari balet sejak dini di Kursus Balet Stefie’s House Of Creativity.
Tata letak kamar
Pengaruhi Kecerdasan dan Kreatifitas AnakSetiap orangtua selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Ilmu fengshui yang berpedoman pada keseimbangan alam, dapat menjadi salah satu rujukan. Fengshui yang berasal dari kata Feng yang berarti angin dan Shui atau air, adalah ilmu tata letak kuno dari Cina yang dikenal sejak 4000 tahun lalu.
Saat ini di banyak negara fengshui menjadi salah satu aturan dalam ilmu arsitektur atau rancang desain, dikaitkan dengan psikologi penghuni rumah, sehingga selaras dengan alam sekitarnya. Anak termasuk penghuni rumah, karena itu dalam merancang suatu tempat, khususnya ruangan dimana anak kerap berada, penting mempertimbangkan kondisi psikologis anak agar selaras dengan lingkungan. Nah, dalam fengshui setiap anak memiliki karakter tersendiri, mereka dikelompokkan berdasarkan shio, yang diatur berdasarkan faktor langit dan bulan saat anak lahir.
Secara detail, demi kemajuan dan kesejahteraan anak, fengshui juga mengatur bagaimana memperlakukan anak, mulai penempatan ruang tidur, posisi tidur, dekorasi kamar, dan lain-lain, Patokan dalam mengatur selalu dilihat dari tahun kelahiran anak serta jenis kelamin. Di bawah ini beberapa contoh aturan fengshui bagi anak:
Letak atau Posisi Tidur
Letak atau posisi tidur anak sebaiknya disesuaikan dengan shionya agar ia tidak rewel, tidur lebih enak, nyaman dan berkualitas. Bila kondisi ini dipertahankan dapat meningkatkan kreatifitas dan kecerdasan anak. Posisi tidur anak laki-laki dibedakan dengan anak perempuan karena karakter dan kondisi psikologis mereka berbeda. Anak lelaki bershio kuda misalnya, sebaiknya tidur menghadap arah barat laut, sedang anak perempuan bershio kuda ke barat daya. Jika tempat tidur anak berbentuk tingkat, letakkan dekat jendela. Jangan biarkan anak tidur di lantai karena yin chi, energi dari dalam lantai, akan memasuki tubuhnya dan menyebabkan mudah sakit. Letak kamar anak tidak disarankan berada di depan kamar tidur orangtuanya. Aliran udara atau chi dari kamar orangtua akan bentrok dengan udara dari kamar anak. Ini menimbulkan pertentangan antara anak dengan orangtua, dan menjadikan anak kurang hormat pada orangtua. Secara riil, privasi orangtua juga kurang terjaga. Letak pintu kamar anak sebaiknya tidak berhadapan dengan posisi tempat tidur anak. Hadapkan pintu pada arah yang sesuai dengan tahun kelahiran anak. Selain itu, sebaiknya pintu kamar anak tidak berhadapan langsung dengan kamar orangtua.
Warna atau Cat Kamar Tidur
Sesuaikan warna cat dinding kamar anak dengan shio-nya agar selaras dengan karakter anak. Jika anak bershio naga, tikus, atau macan, yang berkarakter kuat dan keras dianjurkan menggunakan cat dinding kamar warna kuat dan cerah seperti merah, kuning, ungu. Anak bershio kuda, kambing, monyet, anjing, babi dan kelinci sebaiknya memilih warna lembut seperti putih, pink, atau hijau pupus. Anak shio ular dapat menggunakan warna kombinasi. Sedang anak bershio ayam cocok dengan segala warna.
Letak Meja Belajar
Bila anak sudah sekolah, letakkan meja belajar menurut arah yang dianjurkan. Jangan membelakangi pintu karena mengganggu konsentasi. Letakan rak buku di punggung anak karena melambangkan ilmu pengetahuan mendukung hidupnya.
Jauhkan Cermin
Jangan meletakkan cermin berhadapan langsung dengan posisi tidur anak. Cermin bersifat menyerap dan memantulkan. Sedang fisik anak masih lemah. Dengan tidur "bercermin" kekuatannya akan terserap cermin, sehingga membuat mereka semakin lemah.
Benda Di Kamar Anak
Ada beberapa benda yang boleh berada di kamar anak, antara lain: jam dinding dengan bandul bergerak ke kiri kanan, karena dapat menangkal sha chi atau pengaruh buruk. Gambar ular naga dan burung phoenix juga cocok ditaruh di kamar anak karena dua binatang ini bersifat melengkapi satu sama lain. Memelihara kura-kura atau ikan mas hitam di akuarium di kamar anak akan membuat anak panjang umur dan makmur, sementara ikan mas hitam melambangkan kekayaan. Jumlah hewan-hewan tersebut sebaiknya delapan, sebagai angka pembawa keberuntungan. Taruh pisau tajam di kolong tempat tidur karena roh halus dipercaya takut benda tajam. Jika ingin menyimpan kotak mainan di kolong tempat tidur, pastikan mainan dan kotaknya selalu bersih.
Rumah Bersih dan Nyaman Ciptakan rumah yang tak saja enak ditempati tapi juga dapat membuat anak betah dan tidak suka keluar rumah atau keluyuran. Rumah harus bersih, tidak panas, sirkulasi udara baik, dan memiliki cukup ruang untuk anak bermain dan bergerak. Menurut fengshui, rumah tempat terbaik dan teraman bagi tumbuhkembang anak. Bila anak sejak kecil tidak menyukai rumahnya, bukan tak mungkin ia akan terbiasa hidup di jalan
Langganan:
Postingan (Atom)


